Skip to main content

Maaf, Aku Belum Menikah. Tapi Aku Damai.

Ada yang menarik perhatian dari ritualku menyapa pagi setiap harinya. Seringkali aku membutuhkan waktu beberapa menit hanya untuk bangkit dari tempat tidur. Aku bukanlah pemalas, hanya saja... aku suka menyesapi permulaan hari dengan melibatkan rasa. Aku menilik dengan dalam bagaimana sepasang netraku menangkap cahaya kembali. Aku meresapi bagaimana Tuhan telah mengembalikan ruhku saat pertama kali melihat langit-langit kamar tersenyum. Ketika yang hening belum berubah bising, aku memaknainya dengan perlahan. Tubuhku lalu bangkit setelahnya, lalu menyentuh dingin lantai dengan perlahan. Walaupun tak bergegas, kehidupanku pun tetap bermula kembali. Aku memang terkesan lelet karena sangat jarang merasa terburu-buru. Aku tidak bersicepat seperti yang orang-orang lakukan di luar sana. Mereka berpacu dan memburu waktu, seolah dunia tidak memberi kesempatan untuk membuat jeda. Sementara aku?... aku masih sibuk berdamai dengan mimpi-mimpi yang masih berserakan dalam kepala. Mimpi yang masih belum sempat aku bereskan.

Aku memeluk permulaan hari sepenuh kasih, sebelum aku benar-benar hidup lagi di dunia yang serba cepat. Dan langkah lambat ini pun ternyata aku terapkan hampir di semua hal. Rasanya sangat jarang aku bekerja dengan gesit seperti yang dilakukan banyak orang. Aku santai, sangat santai karena aku memang merasa tidak diburu oleh apapun. Dari caraku mengambil air dengan gayung saat mandi, hingga dengan bagaimana aku mengendarai motor saat berpergian. Saat mandi, aku menyiram tubuhku dengan perlahan, membiarkan air itu meresap dengan tawa sedikit demi sedikit. Lalu saat berkendara, aku menikmati aroma jalanan dengan kecepatan rendah. Aku suka memperhatikan detail yang ada di alam sekitar saat berpergian.

Berpacu dan bergegas. Sebenarnya aku juga bisa kalau aku mau. Karena di keadaan tertentu, aku juga melakukannya. Saat terlambat ke acara atau kegiatan penting, sehingga aku butuh untuk menggunakan waktu sesedikit mungkin. Di rumah, sering juga aku nampak berpacu dengan waktu saat berbenah disaksikan mamah. Hal ini aku lakukan karena beliau memang tak pernah suka dengan anak perempuan yang tak gesit dalam bekerja. Tak baik katanya. Walaupun begitu, aku merasa bahwa bekerja dengan alur yang cepat bukanlah ritmeku. Dan mungkin karena aku dasarnya memang suka ritme yang mengalun pelan inilah sehingga langkahku dalam hidup pun terasa pelan.Tak jarang aku merasa tertinggal saat orang lain tampak melesat begitu jauh. Namun saat aku menelaah alur kehidupanku dengan sebijak mungkin, aku justru merasa bahwa dari langkah yang pelan itulah Tuhan memberiku hadiah. Aku belajar menyimak, meresapi, dan benar-benar hadir dalam kesempatanku berjalan, walau lambat.

Dalam hal karir dan hubungan, aku juga menyadari bahwa langkahku terlihat jomplang atau tidak selaras dengan standar garis finish yang ditetapkan orang lain. Teman-teman seusiaku telah banyak yang sampai ke kata "berhasil" menurut standar sosial pada umumnya. Mereka bergelar dan nampak sumringah dengan seragam batik biru. Dan tak sedikit juga yang tertawa dengan keluarga kecil. Mereka telah menikah, memiliki anak, dan rumah sendiri disaat aku masih belajar menyusun langkah. Aku masih mencari bentuk dan makna dari apa yang ingin benar-benar kujalani. Aku bukan kalah, hanya saja aku memilih untuk tidak terburu-buru kehilangan jati diri sendiri. Aku menyatu dan berkawan dengan diriku tanpa berusaha meniru irama langkah orang lain. Yah tentu aku juga berada dalam sebuah perjalanan hidup seperti halnya mereka, namun aku berjalan di alur yang tidak akan sepenuhnya mampu dipahami. Mereka seolah berlari di sirkuit balap dengan kecepatan tinggi dengan arah dan target yang jelas. Lalu aku?... aku sedang berlari di taman. Kadang berhenti untuk menghirup wangi bunga, kadang mengejar kupu-kupu, dan kadang rehat sebentar di bangku kayu sembari memandangi gradasi cakrawala. Tujuanku hidup adalah untuk merasakan, bukan untuk menjadi pemenang dalam adu balap. Biarlah langkahku pelan,tapi jelas dan bermakna. Biarkan aku melambat dengan penuh rasa syukur...

Comments

Popular posts from this blog

Menjadi tanpa tergesa

Selain sangat suka sendirian dan hidup dalam lengang, aku pun sebenarnya tak membenci membaur dan bertemu dengan banyak orang. Aku betah dalam keadaan ruang yang sepi karena seringkali ia justru tidak membuat kesepian. Namun disisi lain, aku juga sangat suka hingar karena di sana aku bisa membaca banyak hal. Iya, aku seringkali memuja sesuatu yang sepi sebagaimana aku mengagumi keramaian. Aku merasa utuh serta cukup dalam sepi, dan merasa hidup di tengah riuh. Terkesan agak kontradiktif, tapi pada kenyataannya memanglah seperti itu. Saat ini adalah hari ke -8 bulan ke tujuh. Bekas tamu bulanan masih berwarna. Seperti biasa, hari-hariku terasa kacau saat aku terpaksa lalai menunaikan sholat lima waktu. Ada ritme ketenangan yang hilang. Hidup jadi seolah tak punya arah. Karenanya, jadwal mandi berubah, pun dengan jadwal kegiatan yang lain. Kemalasan bertambah berlipat-lipat. Jerawat berseliweran, hingga mabok gawai yang tidak berujung. Aku sadar bahwa yang kulakukan kebanyakan tak ...

Bukan Sekadar Rumah Baca, Tapi Tempat Kata-Kata Bermukim

Sedikit bercerita tentang masa kanak-kanak saya dulu yang gemar membuka majalah Andaka dan Bobo. Dua bacaan anak jaman bahuela yang sempat jadi teman bermain. Bapak saya adalah seorang guru SD yang setiap bulannya membawa majalah-majalah tersebut ke rumah. Majalah yang full dengan gambar berwarna. Puisi dan fabel pun ada di dalamnya. Sebagai anak-anak, tentu saya jadi suka dengan bacaan yang seperti itu. Akhirnya, saya punya kebiasaan suka membaca, hingga kadang berkhayal jadi kelinci atau gajah seperti yang ada dalam cerita. Selain majalah Andaka dan Bobo, jaman kecil saya pun punya kebiasaan membaca peta sambil tengkurap di atas lantai. Hampir setiap sore saat tidak diijinkan keluar rumah, saya akan menghabiskan waktu untuk membuka buku bersampul hijau bertuliskan kata "ATLAS". Buku yang menjadi buku kesayangan. Terbungkus plastik, dan masih ada hingga kini. Membukanya hanya untuk meraba-raba bentuk negara Amerika, Prancis, Jerman, dan lain sebagainya. Menghafal...