Skip to main content

Posts

𝐋đĸ𝐭𝐭đĨ𝐞 𝐅đĢ𝐚𝐠đĻ𝐞𝐧𝐭đŦ 🧩☁️

Sementara

Katanya, dalam hidup hanya ada dua hari yang tidak berjumlah 24 jam: hari kita dilahirkan, dan hari kita meninggal. Merangkai ketikan lagi. Wangi relaksasi dari parfum ruangan beraroma Jasmine yang tadi kusemprotkan masih bisa kuendus hingga kini. Aromanya bercampur dengan wangi parfum yang kupakai sebelum merayakan maghrib beberapa saat yang lalu. Ia masih bergelayut pada mukenah yang kukenakan. Wangi yang membuat betah. Mengetik sembari menunggu perayaan waktu yang berikutnya pun terasa lebih nyaman. Sebagai orang yang gemar menghabiskan waktu sendirian dalam kamar, aku memang punya kebiasaan meromantisasi keadaan. Mengganti seprai, membersihkan lantai, menyalakan lampu kecil, memutar lagu melow dengan volume rendah, lalu menyemprotkan parfum di beberapa titik dan sudut. Sederhana, namun selalu berhasil menghalau rasa sendiri tanpa harus jatuh menjadi kesepian. Dan senang rasanya karena seringkali mendapati diri yang mudah bahagia hanya dari hal-hal kecil yang kulakukan. Dan t...
Recent posts

Dibalik Ketenanganku

“Amm, kulihat-lihat kau kalau ada masalahmu, kayak cuek sekali. Kalau saya itu, deh… stressma, pusingma pikir HP-ku.Bukan apanya... data itu kaue. Dan kau bisa-bisanya hilang HP-mu, baru santai-santaiji kuliat” . Kembali berinisiatif menggunakan waktu luang untuk mengetik hanya karena teringat celetukan salah seorang teman. Kemarin, handphone milikku sempat hilang sebentar di sebuah pusat perbelanjaan. Kejadian ini tentu terjadi karena keteledoranku sendiri. Kalau dibilang panik, ya, aku juga sempat panik. Namun, mungkin kepanikanku nampak tidak seintens orang lain. Entah kenapa, aku memang selalu begitu. Dari kilasan kejadian kemarin, bukan berarti aku ingin menunjukkan bahwa aku hidup tanpa jiwa & perasaan. Aku juga bisa merasa khawatir, lemah, takut, dan patah. Hanya saja, caraku dalam memproses masalah mungkin memang cenderung berbeda. Lalu,jika ditelaah lebih jauh, sikapku terhadap kehilangan kemarin mungkin juga dipengaruhi oleh kebiasaanku kehilangan handphone sel...

Between Almost and Never

Some endings never make a sound. They just slip quietly between the pages, pretending to be silence. I used to think peace was forgetting, turns out it’s remembering without the ache. Somewhere between almost and never, I found calm. excerpt from A Poem for What’s Left Unsaid.

Menjadi tanpa tergesa

Selain sangat suka sendirian dan hidup dalam lengang, aku pun sebenarnya tak membenci membaur dan bertemu dengan banyak orang. Aku betah dalam keadaan ruang yang sepi karena seringkali ia justru tidak membuat kesepian. Namun disisi lain, aku juga sangat suka hingar karena di sana aku bisa membaca banyak hal. Iya, aku seringkali memuja sesuatu yang sepi sebagaimana aku mengagumi keramaian. Aku merasa utuh serta cukup dalam sepi, dan merasa hidup di tengah riuh. Terkesan agak kontradiktif, tapi pada kenyataannya memanglah seperti itu. Saat ini adalah hari ke -8 bulan ke tujuh. Bekas tamu bulanan masih berwarna. Seperti biasa, hari-hariku terasa kacau saat aku terpaksa lalai menunaikan sholat lima waktu. Ada ritme ketenangan yang hilang. Hidup jadi seolah tak punya arah. Karenanya, jadwal mandi berubah, pun dengan jadwal kegiatan yang lain. Kemalasan bertambah berlipat-lipat. Jerawat berseliweran, hingga mabok gawai yang tidak berujung. Aku sadar bahwa yang kulakukan kebanyakan tak ...

Memang Apa Enaknya Menjadi Seorang Private Tutor?

Pagi ini, Kamis 20 November pukul 06.55, aku membuka layar. Tapi bukan untuk journaling pagi seperti apa yang memang kulakukan hampir setiap hari. Aku berinisiatif membuka ruang kecil ini kembali. Ada ruang kosong di sini yang meminta untuk diisi, usai aku tak sengaja menemukan sebuah tulisan tentang manfaat menulis di blog. Katanya, mencatat pengalaman hidup di blog membuat kita mampu mengelola emosi hingga melatih kedisiplinan dan kreatifitas otak. Dan dari beberapa manfaat yang disebutkan, "merekam kenangan" adalah alasan paling kuat mengapa aku seringkali ingin mengabadikan momen tertentu dalam tulisan di blog. Sebab kelak, saat waktu memaksaku berhenti dari semua hal yang kusukai, maka tulisan itu akan menjadi jejak digital bahwa aku pernah hidup dan merasakan dunia. Hari ini, mendung masih membaluri langit dengan warna abu-abu. Suasananya cukup sepi, dan bisa dipastikan bahwa air masih menggenang cukup dalam di jalanan. Tidak ada suara siapapun. Yang ada hanya suar...

Maaf, Aku Belum Menikah. Tapi Aku Damai.

Ada yang menarik perhatian dari ritualku menyapa pagi setiap harinya. Seringkali aku membutuhkan waktu beberapa menit hanya untuk bangkit dari tempat tidur. Aku bukanlah pemalas, hanya saja... aku suka menyesapi permulaan hari dengan melibatkan rasa. Aku menilik dengan dalam bagaimana sepasang netraku menangkap cahaya kembali. Aku meresapi bagaimana Tuhan telah mengembalikan ruhku saat pertama kali melihat langit-langit kamar tersenyum. Ketika yang hening belum berubah bising, aku memaknainya dengan perlahan. Tubuhku lalu bangkit setelahnya, lalu menyentuh dingin lantai dengan perlahan. Walaupun tak bergegas, kehidupanku pun tetap bermula kembali. Aku memang terkesan lelet karena sangat jarang merasa terburu-buru. Aku tidak bersicepat seperti yang orang-orang lakukan di luar sana. Mereka berpacu dan memburu waktu, seolah dunia tidak memberi kesempatan untuk membuat jeda. Sementara aku?... aku masih sibuk berdamai dengan mimpi-mimpi yang masih berserakan dalam kepala. Mimpi yang masih...

Lautan Perak dan Cahaya Jingga

     Langit, air, dan pasir dilukis alam dengan warna abu abu. Tepat di jam 5 sore aku menikmati alam sendirian. Di sini adalah kampung halaman nenek yang setelah sekian lama, akhirnya bisa kutandangi kembali. Tempat berbau asin yang hari ini nampak tak ramah pada orang asing sepertiku. Di tengah alam semesta, aku diapit kericuhan air yang berubah semakin mengganas. Buih ombaknya tumpah ruah seperti air ludah. Namun ini sama sekali tak menjijikkan. Semakin banyak kulihat buih-buih itu datang menyerbu lalu terserap pasir dikemudiannya, semakin bangkit seleraku tuk menikmati semesta yang nampak seperti perak dengan warna abu-abunya. Bahari masih dengan kawanan ombak yang mengganas, juga tiupan angin yang menggila saat percikan warna jingga perlahan jatuh di atas permukaan air. Abu-abu berubah semakin pekat, hingga alam berubah hening. Suasana perlahan jadi bisu. Aku diam, mereka diam. Malam mulai nampak, lalu kuputuskan pulang dengan membawa sebongkah harapku pada...