Langit, air, dan pasir dilukis alam dengan warna abu abu. Tepat di jam 5 sore aku menikmati alam sendirian. Di sini adalah kampung halaman nenek yang setelah sekian lama, akhirnya bisa kutandangi kembali. Tempat berbau asin yang hari ini nampak tak ramah pada orang asing sepertiku. Di tengah alam semesta, aku diapit kericuhan air yang berubah semakin mengganas. Buih ombaknya tumpah ruah seperti air ludah. Namun ini sama sekali tak menjijikkan. Semakin banyak kulihat buih-buih itu datang menyerbu lalu terserap pasir dikemudiannya, semakin bangkit seleraku tuk menikmati semesta yang nampak seperti perak dengan warna abu-abunya. Bahari masih dengan kawanan ombak yang mengganas, juga tiupan angin yang menggila saat percikan warna jingga perlahan jatuh di atas permukaan air. Abu-abu berubah semakin pekat, hingga alam berubah hening. Suasana perlahan jadi bisu. Aku diam, mereka diam. Malam mulai nampak, lalu kuputuskan pulang dengan membawa sebongkah harapku pada Tuhan.
Kelak, aku ingin perakhiran yang indah sama seperti mentari yang menyenja disaat petang.
Maha Suci Engkau yang mencipta...
Pinrang, 3 Januari 2019

Comments
Post a Comment