Skip to main content

Lautan Perak dan Cahaya Jingga


     Langit, air, dan pasir dilukis alam dengan warna abu abu. Tepat di jam 5 sore aku menikmati alam sendirian. Di sini adalah kampung halaman nenek yang setelah sekian lama, akhirnya bisa kutandangi kembali. Tempat berbau asin yang hari ini nampak tak ramah pada orang asing sepertiku. Di tengah alam semesta, aku diapit kericuhan air yang berubah semakin mengganas. Buih ombaknya tumpah ruah seperti air ludah. Namun ini sama sekali tak menjijikkan. Semakin banyak kulihat buih-buih itu datang menyerbu lalu terserap pasir dikemudiannya, semakin bangkit seleraku tuk menikmati semesta yang nampak seperti perak dengan warna abu-abunya. Bahari masih dengan kawanan ombak yang mengganas, juga tiupan angin yang menggila saat percikan warna jingga perlahan jatuh di atas permukaan air. Abu-abu berubah semakin pekat, hingga alam berubah hening. Suasana perlahan jadi bisu. Aku diam, mereka diam. Malam mulai nampak, lalu kuputuskan pulang dengan membawa sebongkah harapku pada Tuhan.
Kelak, aku ingin perakhiran yang indah sama seperti mentari yang menyenja disaat petang.
Maha Suci Engkau yang mencipta...

Pinrang, 3 Januari 2019

Comments

Popular posts from this blog

Maaf, Aku Belum Menikah. Tapi Aku Damai.

Ada yang menarik perhatian dari ritualku menyapa pagi setiap harinya. Seringkali aku membutuhkan waktu beberapa menit hanya untuk bangkit dari tempat tidur. Aku bukanlah pemalas, hanya saja... aku suka menyesapi permulaan hari dengan melibatkan rasa. Aku menilik dengan dalam bagaimana sepasang netraku menangkap cahaya kembali. Aku meresapi bagaimana Tuhan telah mengembalikan ruhku saat pertama kali melihat langit-langit kamar tersenyum. Ketika yang hening belum berubah bising, aku memaknainya dengan perlahan. Tubuhku lalu bangkit setelahnya, lalu menyentuh dingin lantai dengan perlahan. Walaupun tak bergegas, kehidupanku pun tetap bermula kembali. Aku memang terkesan lelet karena sangat jarang merasa terburu-buru. Aku tidak bersicepat seperti yang orang-orang lakukan di luar sana. Mereka berpacu dan memburu waktu, seolah dunia tidak memberi kesempatan untuk membuat jeda. Sementara aku?... aku masih sibuk berdamai dengan mimpi-mimpi yang masih berserakan dalam kepala. Mimpi yang masih...

Menjadi tanpa tergesa

Selain sangat suka sendirian dan hidup dalam lengang, aku pun sebenarnya tak membenci membaur dan bertemu dengan banyak orang. Aku betah dalam keadaan ruang yang sepi karena seringkali ia justru tidak membuat kesepian. Namun disisi lain, aku juga sangat suka hingar karena di sana aku bisa membaca banyak hal. Iya, aku seringkali memuja sesuatu yang sepi sebagaimana aku mengagumi keramaian. Aku merasa utuh serta cukup dalam sepi, dan merasa hidup di tengah riuh. Terkesan agak kontradiktif, tapi pada kenyataannya memanglah seperti itu. Saat ini adalah hari ke -8 bulan ke tujuh. Bekas tamu bulanan masih berwarna. Seperti biasa, hari-hariku terasa kacau saat aku terpaksa lalai menunaikan sholat lima waktu. Ada ritme ketenangan yang hilang. Hidup jadi seolah tak punya arah. Karenanya, jadwal mandi berubah, pun dengan jadwal kegiatan yang lain. Kemalasan bertambah berlipat-lipat. Jerawat berseliweran, hingga mabok gawai yang tidak berujung. Aku sadar bahwa yang kulakukan kebanyakan tak ...

Bukan Sekadar Rumah Baca, Tapi Tempat Kata-Kata Bermukim

Sedikit bercerita tentang masa kanak-kanak saya dulu yang gemar membuka majalah Andaka dan Bobo. Dua bacaan anak jaman bahuela yang sempat jadi teman bermain. Bapak saya adalah seorang guru SD yang setiap bulannya membawa majalah-majalah tersebut ke rumah. Majalah yang full dengan gambar berwarna. Puisi dan fabel pun ada di dalamnya. Sebagai anak-anak, tentu saya jadi suka dengan bacaan yang seperti itu. Akhirnya, saya punya kebiasaan suka membaca, hingga kadang berkhayal jadi kelinci atau gajah seperti yang ada dalam cerita. Selain majalah Andaka dan Bobo, jaman kecil saya pun punya kebiasaan membaca peta sambil tengkurap di atas lantai. Hampir setiap sore saat tidak diijinkan keluar rumah, saya akan menghabiskan waktu untuk membuka buku bersampul hijau bertuliskan kata "ATLAS". Buku yang menjadi buku kesayangan. Terbungkus plastik, dan masih ada hingga kini. Membukanya hanya untuk meraba-raba bentuk negara Amerika, Prancis, Jerman, dan lain sebagainya. Menghafal...