Skip to main content

Bukan Sekadar Rumah Baca, Tapi Tempat Kata-Kata Bermukim

Sedikit bercerita tentang masa kanak-kanak saya dulu yang gemar membuka majalah Andaka dan Bobo. Dua bacaan anak jaman bahuela yang sempat jadi teman bermain. Bapak saya adalah seorang guru SD yang setiap bulannya membawa majalah-majalah tersebut ke rumah. Majalah yang full dengan gambar berwarna. Puisi dan fabel pun ada di dalamnya. Sebagai anak-anak, tentu saya jadi suka dengan bacaan yang seperti itu. Akhirnya, saya punya kebiasaan suka membaca, hingga kadang berkhayal jadi kelinci atau gajah seperti yang ada dalam cerita.

Selain majalah Andaka dan Bobo, jaman kecil saya pun punya kebiasaan membaca peta sambil tengkurap di atas lantai. Hampir setiap sore saat tidak diijinkan keluar rumah, saya akan menghabiskan waktu untuk membuka buku bersampul hijau bertuliskan kata "ATLAS". Buku yang menjadi buku kesayangan. Terbungkus plastik, dan masih ada hingga kini. Membukanya hanya untuk meraba-raba bentuk negara Amerika, Prancis, Jerman, dan lain sebagainya. Menghafalkan bentuk dan warna benderanya, membayangkan tatanan kota, hingga rupa manusia yang tinggal di sana. Saya suka mempelajari kehidupan di bumi melalui lembaran kertas tersebut.

Lalu saat tumbuh besar, minat membaca itu mulai hilang. Saya tidak lagi banyak menghabiskan waktu hanya untuk membaca. Kebiasaan itu terganti dengan hal yang lain. Salah satunya adalah berburu gambar pemain drama Korea dan berselancar dalam dunia maya. hh! Walaupun demikian, perpustakaan selalu jadi tempat paling asyik untuk menepi sebentar. Dari jaman SD hingga sekarang, perpustakaan selalu punya daya tarik tersendiri yang menarik untuk dikunjungi. Walaupun saat menepi di sana, saya hanya sekedar membuka sampul buku lalu menutupnya kembali. Bahkan, tak jarang saya malah ngobrol sambil berbisik dengan teman, atau sekedar memandangi rak-rak buku yang berbaris dengan apiknya. Dengan minat baca yang sangat minim hingga sekarang, ternyata saya masih terpesona dengan buku. Hal tersebut terlihat dari kebiasaan saya membeli buku setiap bulan atau paling tidak sekali dalam 3 bulan. Saya menyisihkan sebagian uang jajan yang saya punya hanya untuk membeli satu hingga tiga buku yang menurut saya menarik. Entah buku fiksi seperti novel, atau non fiksi seperti self improvement. Membelinya, lalu kemudian memajangnya di rak yang saya punya dalam kamar. Kamu membeli tanpa menjamahnya? "ini andai ada yang bertanya. hmm,,,terjamah, namun akan terjadi berminggu, hingga berbulan kemudian. Lalu saat membaca buku-buku tersebut, apakah membuat saya jadi banyak tahu? hmm,, faktanya adalah tidak. Kenapa? Karena kegiatan membaca yang saya lakukan nampaknya bukanlah kegiatan yang bertujuan untuk menggali informasi sebanyak mungkin, namun sebatas kegiatan membunuh sepi di waktu luang. Usai terjamah, bukunya saya simpan kembali tanpa pernah mengingat detail isinya.

Berbicara tentang buku dan perpustakaan, akan selalu menarik. Di daerah Pambusuang, salah satu desa di Kecamatan Balanipa, Polewali Mandar, terdapat sebuah perpustakaan. Namanya "Nusa Pustaka". Perpustakaan museum yang belum lama menjadi salah satu objek wisata, terkhusus mereka yang suka dengan dunia literasi. Tidak seperti perpustaakaan pada umumnya, perpustakaan ini cukup unik dengan kerangka bangunannya yang mirip dengan rumah panggung. Lantainya terbuat dari papan dan bambu. Begitupun dengan dindingnya. Warna dan model rak bukunya pun cukup variatif, berikut dengan buku-buku yang berjejer diatasnya.

Muh. Ridwan Alimuddin. Beliualah yang pertama kali memprakarsai pergerakan literasi di daerah ini. Budayawan Mandar dan seorang penulis yang lulus dari Universitas Gadjah Mada ditahun 2006. Sebelumnya saya pernah bertemu beliau. Sekali. Di Makassar, tepatnya di acara Makassar International Writer Festival (MIWF) beberapa bulan yang lalu. Lalu saat menyambangi tempat ini, ini menjadi pertemuan saya yang kedua. Cukup merasa diinspirasi saat mengetahui bahwa selain Nusa Pustaka, program gerakan membaca yang diiusahakannya dengan para volunteer lain pun diaplikasikan melalui penggunaan transportasi tradisional seperti becak, andong, hingga perahu bagi mereka yang berada di seberang perairan. That's sounds so amazing, right? Seberusaha itu menggerakkan literasi, karena memang sePENTING itu kesadaran tentang pentingnya "MEMBACA". Agar melek, agar maju peradaban......
Notes : Terimakasih Yuuka, terimakasih Ipes, dan terimakasih Conge....

Comments

Popular posts from this blog

Maaf, Aku Belum Menikah. Tapi Aku Damai.

Ada yang menarik perhatian dari ritualku menyapa pagi setiap harinya. Seringkali aku membutuhkan waktu beberapa menit hanya untuk bangkit dari tempat tidur. Aku bukanlah pemalas, hanya saja... aku suka menyesapi permulaan hari dengan melibatkan rasa. Aku menilik dengan dalam bagaimana sepasang netraku menangkap cahaya kembali. Aku meresapi bagaimana Tuhan telah mengembalikan ruhku saat pertama kali melihat langit-langit kamar tersenyum. Ketika yang hening belum berubah bising, aku memaknainya dengan perlahan. Tubuhku lalu bangkit setelahnya, lalu menyentuh dingin lantai dengan perlahan. Walaupun tak bergegas, kehidupanku pun tetap bermula kembali. Aku memang terkesan lelet karena sangat jarang merasa terburu-buru. Aku tidak bersicepat seperti yang orang-orang lakukan di luar sana. Mereka berpacu dan memburu waktu, seolah dunia tidak memberi kesempatan untuk membuat jeda. Sementara aku?... aku masih sibuk berdamai dengan mimpi-mimpi yang masih berserakan dalam kepala. Mimpi yang masih...

Menjadi tanpa tergesa

Selain sangat suka sendirian dan hidup dalam lengang, aku pun sebenarnya tak membenci membaur dan bertemu dengan banyak orang. Aku betah dalam keadaan ruang yang sepi karena seringkali ia justru tidak membuat kesepian. Namun disisi lain, aku juga sangat suka hingar karena di sana aku bisa membaca banyak hal. Iya, aku seringkali memuja sesuatu yang sepi sebagaimana aku mengagumi keramaian. Aku merasa utuh serta cukup dalam sepi, dan merasa hidup di tengah riuh. Terkesan agak kontradiktif, tapi pada kenyataannya memanglah seperti itu. Saat ini adalah hari ke -8 bulan ke tujuh. Bekas tamu bulanan masih berwarna. Seperti biasa, hari-hariku terasa kacau saat aku terpaksa lalai menunaikan sholat lima waktu. Ada ritme ketenangan yang hilang. Hidup jadi seolah tak punya arah. Karenanya, jadwal mandi berubah, pun dengan jadwal kegiatan yang lain. Kemalasan bertambah berlipat-lipat. Jerawat berseliweran, hingga mabok gawai yang tidak berujung. Aku sadar bahwa yang kulakukan kebanyakan tak ...