Minggu 9 Oktober yang lalu, aku dan Yiy berbenah dipagi hari. Menyetrika pakaian kemudian bergegas mandi. Setelahnya, kulihat pakaian yang akan kukenakan menggelantung rapi di sebuah paku kecil di dinding kamar. Agak berbeda, kali ini tidak ada kerudung yang ikut menggelantung seperti hari-hari kemarin. Aku meraih mereka satu per satu, lalu memakainya khidmat dengan perasaan agak ragu-ragu. Sedikit tertegun saat melihat diri dalam bayangan cermin. Aku mengenakan kemeja putih polos yang dipadankan dengan sweater hitam dan rok berwarna biru. Memakai sebuah kacamata, menyanggul sebagian rambut dengan sumpit berwarna coklat, dan menyelempang tas kecil yang pun berwarna coklat. Sesaat menyimak penampilanku dalam pantulan cermin, teguran Yiy cukup membuatku kaget. Dia bilang bahwa aku benar-benar mirip dengan orang Nasrani. Kutimpali saja bahwa orang yang menyamar itu jangan setengah-setengah” kataku. Hh! Sesaat kemudian kulirik kembali bayanganku sendiri untuk membuktikan kebenaran pendapatnya. Iyya ih!”pikiranku ikut membenarkan. Mungkin karena kemeja putih dan kacamata yang kukenakan. Ootd yang memang biasa dipakai jemaat saat ke gereja dalam drama Korea. Wkwk.
Keraguan untuk melaksanakan misi tersebut sempat ada sebelum kami benar-benar pergi hari itu. Apa mungkin kami keluar tanpa mengenakan kerudung? Apa hukum seorang muslim ikut dalam ritual ibadah agama lain? Dan apakah Tuhan maklum akan apa yang kami lakukan? Beberapa pertanyaan yang munculnya pun tidak mampu menahan kami agar tidak melakukan kegilaan tersebut. Kami akhirnya pergi dengan style yang agak berbeda di minggu pagi waktu itu.
Dengan ucapan Bismillah kami menuruni anak tangga, lalu memanggil sebuah bentor untuk mengantar kami ke salah satu gereja di daerah Mallengkeri. Jaraknya memang tak jauh, namun singkat waktu yang akan ditempuh ternyata menyediakan cukup ruang untukku bersolilokui, mengenang kebiasaanku dulu menghabiskan voucher internet. Belajar ilmu Teologi, karena ingin tahu tentang ragam agama yang ada di muka bumi ini. Bukannya skeptis pada agama yang kuanut, namun sepertinya akan lebih baik jika aku memutuskan untuk menjadi muslim bukan karena ayah dan ibuku juga seorang muslim. Akan lebih baik jika aku tahu dan paham bahwa agama yang kuanut memang pantas untuk aku yakini. Bukankah kualitas atau baik-buruknya sesuatu bisa diketahui ketika ia dibandingkan dengan yang lain?
Setelah sekilas berpikir tentang kebiasaanku dulu, aku membangun celoteh dengan daeng bentor disela dentuman suara cempreng mesin yang membahana. Dimulai dari satu pertanyaan apakah benar aku mirip dengan orang Nasrani?. Iyyah!, apalagi karena pake kacamataki “jawabnya. Singkat cerita, kami sampai di depan gereja tersebut. Terdapat beberapa mobil jemaat terparkir di sana. Dari jarak sekian meter kulihat jemaatnya masuk satu persatu yang sempat melemahkan percaya diriku tuk memasuki tempat itu. Walaupun dengan bantuan Google kami telah tahu apa yang akan kami lakukan dalam ritual agama Kristen, namun tetap saja bergumpal pertanyaan bermuara pada satu kekhawatiran. Bagaimana jika mereka tahu bahwa kami adalah seorang muslim? Bagaimana jika ternyata terdapat ritual khusus yang dilakukan oleh para jemaat? Yah, tapi kekhawatiran itu tak cukup jitu untuk menghentikan niat yang sudah bulat. Kami pun masuk layaknya seorang Nasrani tulen dengan mengekor pada jemaat yang lain. Dengan ucapan Bismillah kami benar-benar telah menginjakkan kaki di tempat yang sangatlah asing. Kami mengambil selembar kertas pujian yang terletak diatas meja depan pintu masuk gereja. Dingin udara dari Air Conditioner dalam ruang itu terasa sangat dingin. Ruangnya cukup bersih yang membuat aku merasa lebih rileks dari sebelumnya. Selang beberapa menit setelah duduk di bangku yang agak belakang, ritual peribadatan pun dimulai. Hal tersebut ditandai dengan penyambutan oleh seorang bapak paruh baya yang mengenakan jubah putih bersalib. Sesaat kemudian, mimbar yang kosong di depan kami diisi seorang pastur bernama Diana Boggatasik. Beliau cantik dan sangat murah senyum.
Kami berdiri kemudian bernyanyi, lalu duduk kembali. Dengan diiringi kualitas sound system yang baik, mereka bernyanyi dengan semangat. Kami seolah tidak sedang berada dalam ritual ibadah, melainkan seperti berada di keramaian konser musik yang menghibur. Karena takut disandra kecurigaan mereka, sesekali kugerakkan bibirku sembari menatap pada layar yang sengaja disiapkan untuk mempermudah para jemaat membaca lirik lagu. Bibirku bergerak halus dan mataku menatap lembut pada layar. Namun, dibalik itu aku pun tak hentinya membaca surah Al-Kafirun, syahadat dan tasbih padaNya. Ditengah orang-orang yang tak mengakui ke-Esaan-Nya, kujadikan ruang itu layaknya surau bagi diriku sendiri. Setelah duduk, berdiri, dan bernyanyi saat itu, satu per satu mereka membuka Bible. Karena tak punya kitab yang sama, akhirnya kami memakai bantuan Google untuk membuka surah Matius seperti yang diperintahkan. Kuperhatikan dengan saksama segala tutur pastur cantik itu. Jangan mencuri, jangan berzinah, dan cintailah sesama! ”khotbahnya.
Jika aku mengklaim Islam adalah agama yang paling baik dan benar, tentu mereka juga akan berlaku demikian. Jadi kunikmati setiap waktu yang berputar di atas kepalaku dalam ruang itu. Kutolerir segala sesuatu yang bagiku sangat tidak masuk akal. Lalu, seusai pembacaan khotbah dan bernyanyi, suasana hening kembali. Kulihat dua majelis gereja menghampiri jemaat satu per satu. Mereka membawa empat kantong beludru yang dikaitkan pada sebuah tongkat besi. Masing-masing berwarna merah, hitam, ungu, dan hijau. Nampak seperti kantong sulap.hh! Para jemaat lalu memasukkan tangan disetiap kantongnya.Kantong itu berisi apa? Semacam kue kah? Hmm…otakku mencoba menebak. Setelah benda asing itu mendarat didepanku, kulihat isinya berupa selebaran uang Rp.2.000-an. Ternyata itu adalah kantong amal. Sama seperti kotak amal di dalam masjid. Setelah kantong-kantong tersebut terisi dengan lembaran uang, acara “lelang” pun dimulai. Beberapa kue dikemas dengan rapi lalu dilelang dengan harga Rp.50.000-Rp.200.000-an. Kue itu dibawa oleh seorang gadis berwajah oriental yang dibalut dengan kemeja putih. Tampilannya sama sepertiku, hanya saja dia memakai rok mini berwarna hitam dan tentunya lebih mulus dan cantik.
Mungkin Tuhan tertawa, marah, atau kecewa melihat tingkah kami berdua yang seolah meragukan ke-EsaanNya. Hari yang semestinya kami belajar di Fort Rotterdam jadi terabaikan. Waktu dimana seharusnya Yiy berdzikir tuk merenungi umur yang bertambah tua tepat pada hari itu juga tak dilakukannya. Memang segila itu. Kami. Hingga waktu pun berlalu. Hari tidak semakin menyala.Teriknya masih merekah abu-abu dikisaran jam 11 pagi. Gereja itu masih berdiri kokoh saat gema pita suara mereka didiamkan waktu. Tak ada lagi pujian dan do'a. Yang ada hanya senyum sumringah saat saling berjabat tangan. Bersama para jemaat itu, aku dan Yiy menghambur keluar dari pintu yang sama, namun tentu dengan keyakinan yang masih berbeda. Diperjalanan pulang, tak hentinya aku berpikir tentang kegilaan yang telah kami lakukan. Sebuah kenekatan yang bagi sebagian pendapat itu hukumnya mubah, tapi tak banyak juga yang mengganggap bahwa hal tersebut adalah haram hukumnya. Dibawah terik yang tidak begitu menyengat, kami melewati setiap lekuk tubuh jalanan. Membaur dengan ruang tanpa tembok pembatas dengan aroma pengalaman yang sungguh jauh berbeda. Didalam sana, tempat kaum kafir itu bersenandung, kami sama sekali tak dikenali hanya karena kami tidak mengenakan kerudung. Kerudung sebagai pelengkap hijab bagi seorang perempuan muslim…
SEBELUM CINTA, IDOLA-SETIAKU
SEPERTI RAMUAN KIMIA,
MERENGGUTKU,
AKU TEMBAGA.
KUCARI DIA
DENGAN SERIBU TANGAN.
DIA ULURKAN LENGAN
MERENGGUTKU DI KAKIKU.
ANGIN KERAS
TAK TERBANGKANKU
KEPADA-NYA
BAK GUNUNG BESI,
KUMANGKAT...
MENCARI HIDUP BARU,
DENGAN BANGGA,
KUPERGI.
(BELAJAR HIDUP DARI RUMI)
deeh menyusup k gereja,, luar biasa..
ReplyDeleteBiarmi ka tdk d baptis ja jd org nasrani sungguhan.
ReplyDeletehahaha,, nda heran ji org lain liatki disana ??
ReplyDeleteHaha.. Tindakan yang terlampau gila memang jika difikir, tapi toh hari ini tindakan itu telah menyusut jadi kenangan, entah kenangan apa namanya. Yg jelas, ada sepenggal pelajaran yg terbesit kala itu, pelajaran bahwa meski sama sama memanggil Allah, tapi dalam hati dan perbuatan Allah kita berbeda, dan itu terlihat jelas dan kusadari tatkala berada diantara mereka saat itu. Thanks for u also mamaechan, sudah menemani membuat kenangan paling absurd dihari berartiku.
ReplyDeleteKenangan buruk ato bukan itu? Hehe
DeleteThis comment has been removed by the author.
Delete