Skip to main content

Menjadi tanpa tergesa

Selain sangat suka sendirian dan hidup dalam lengang, aku pun sebenarnya tak membenci membaur dan bertemu dengan banyak orang. Aku betah dalam keadaan ruang yang sepi karena seringkali ia justru tidak membuat kesepian. Namun disisi lain, aku juga sangat suka hingar karena di sana aku bisa membaca banyak hal. Iya, aku seringkali memuja sesuatu yang sepi sebagaimana aku mengagumi keramaian. Aku merasa utuh serta cukup dalam sepi, dan merasa hidup di tengah riuh. Terkesan agak kontradiktif, tapi pada kenyataannya memanglah seperti itu. Saat ini adalah hari ke -8 bulan ke tujuh. Bekas tamu bulanan masih berwarna. Seperti biasa, hari-hariku terasa kacau saat aku terpaksa lalai menunaikan sholat lima waktu. Ada ritme ketenangan yang hilang. Hidup jadi seolah tak punya arah. Karenanya, jadwal mandi berubah, pun dengan jadwal kegiatan yang lain. Kemalasan bertambah berlipat-lipat. Jerawat berseliweran, hingga mabok gawai yang tidak berujung. Aku sadar bahwa yang kulakukan kebanyakan tak baik, namun entah kenapa ada saat tertentu dalam 30 hari itu yang seolah dikhususkan datang untuk memporak-porandakan semua rencana yang telah kubuat. Aku selalu hidup bahagia dalam keteraturan, namun saat masa itu tiba, ketidakteraturan justru menjelma menjadi teman yang baik.

Malam saat aku iseng mengetik ini, badanku masih cukup pegal. Rasanya masih lelah. Entah karena bawaan tamu bulanan, atau justru karena kelelahan bertemu dengan orang sepanjang hari. Senin kemarin, dari pagi sampai maghrib aku bertemu orang. Walaupun pada dasarnya aku juga suka ngobrol dan bergaul, namun sudah lumrah terjadi bahwa usai melakukan itu semua, energi aku akan terkuras hampir tak bersisa. Badanku lunglai dan bahkan terkadang terasa demam. Kemarin, pagi-siang aku mengajar 8 sks, lalu sorenya harus berganti profesi menjadi seorang guru les private. Kemudian hari ini, dalam lembab keadaan usai hujan, aku harus berdamai dengan kemacetan yang cukup panjang. Tapi bukan itu semua yang mendorong aku kembali menarikan jari di atas papan ketik. Ada hal lain. Tentang rasa tenang dan damai yang kurasakan akhir-akhir ini. Bahkan disaat yang seharusnya aku menggerutu, marah, ngedumel, dan sejenisnya, itu tidak terjadi. Sesal pun tak ada kala teringat bahwa kemarin aku telah melewatkan satu kesempatan besar di depan mata untuk sekolah lagi. Yap. Rasanya bangga dengan perubahan diri yang mulai tak seburuk yang lalu.

Biasanya saat masa ini datang, aku akan mudah marah pada hal-hal kecil. Tersulut emosi begitu gampang. Jangankan manusia, tali jemuran atau hanger pakaian yang tidak sengaja jatuh pun terlihat nantangin beradegan tinju. Dan sepertinya kebanyakan perempuan pernah berada di fase yang sama. Aku. Si perempuan yang mereka takutkan akan berakhir menjadi seorang perawan tua, dan si perempuan yang tidak punya prestasi dan pencapaian apapun ini, ternyata mulai bisa menuai hal baik dari semua kejadian yang ia alami dalam kehidupan. Setelah tersenyum, ia sadar bahwa hidup selalu berjalan dalam irama yang berganti. Kadang riuh, kadang tenang, namun selalu penuh makna. Dalam setiap momen yang berlalu, ia belajar mengenali dirinya dengan lebih jujur, menerima yang tumbuh perlahan di dalamnya. Kini, di usianya yang tak lagi muda, ia tak lagi mengejar sorot mata banyak orang. Ia tidak tertarik pada banyak hal yang justru dikejar dan disukai oleh banyak orang. Yang ia inginkan hanya satu, “TUMBUH”. Bukan tumbuh tinggi agar terlihat, namun tumbuh dalam dan berakar agar kuat...

Comments

Popular posts from this blog

Maaf, Aku Belum Menikah. Tapi Aku Damai.

Ada yang menarik perhatian dari ritualku menyapa pagi setiap harinya. Seringkali aku membutuhkan waktu beberapa menit hanya untuk bangkit dari tempat tidur. Aku bukanlah pemalas, hanya saja... aku suka menyesapi permulaan hari dengan melibatkan rasa. Aku menilik dengan dalam bagaimana sepasang netraku menangkap cahaya kembali. Aku meresapi bagaimana Tuhan telah mengembalikan ruhku saat pertama kali melihat langit-langit kamar tersenyum. Ketika yang hening belum berubah bising, aku memaknainya dengan perlahan. Tubuhku lalu bangkit setelahnya, lalu menyentuh dingin lantai dengan perlahan. Walaupun tak bergegas, kehidupanku pun tetap bermula kembali. Aku memang terkesan lelet karena sangat jarang merasa terburu-buru. Aku tidak bersicepat seperti yang orang-orang lakukan di luar sana. Mereka berpacu dan memburu waktu, seolah dunia tidak memberi kesempatan untuk membuat jeda. Sementara aku?... aku masih sibuk berdamai dengan mimpi-mimpi yang masih berserakan dalam kepala. Mimpi yang masih...

Bukan Sekadar Rumah Baca, Tapi Tempat Kata-Kata Bermukim

Sedikit bercerita tentang masa kanak-kanak saya dulu yang gemar membuka majalah Andaka dan Bobo. Dua bacaan anak jaman bahuela yang sempat jadi teman bermain. Bapak saya adalah seorang guru SD yang setiap bulannya membawa majalah-majalah tersebut ke rumah. Majalah yang full dengan gambar berwarna. Puisi dan fabel pun ada di dalamnya. Sebagai anak-anak, tentu saya jadi suka dengan bacaan yang seperti itu. Akhirnya, saya punya kebiasaan suka membaca, hingga kadang berkhayal jadi kelinci atau gajah seperti yang ada dalam cerita. Selain majalah Andaka dan Bobo, jaman kecil saya pun punya kebiasaan membaca peta sambil tengkurap di atas lantai. Hampir setiap sore saat tidak diijinkan keluar rumah, saya akan menghabiskan waktu untuk membuka buku bersampul hijau bertuliskan kata "ATLAS". Buku yang menjadi buku kesayangan. Terbungkus plastik, dan masih ada hingga kini. Membukanya hanya untuk meraba-raba bentuk negara Amerika, Prancis, Jerman, dan lain sebagainya. Menghafal...