Skip to main content

Dibalik Ketenanganku

“Amm, kulihat-lihat kau kalau ada masalahmu, kayak cuek sekali. Kalau saya itu, deh… stressma, pusingma pikir HP-ku.Bukan apanya... data itu kaue. Dan kau bisa-bisanya hilang HP-mu, baru santai-santaiji kuliat” .

Kembali berinisiatif menggunakan waktu luang untuk mengetik hanya karena teringat celetukan salah seorang teman. Kemarin, handphone milikku sempat hilang sebentar di sebuah pusat perbelanjaan. Kejadian ini tentu terjadi karena keteledoranku sendiri. Kalau dibilang panik, ya, aku juga sempat panik. Namun, mungkin kepanikanku nampak tidak seintens orang lain. Entah kenapa, aku memang selalu begitu.

Dari kilasan kejadian kemarin, bukan berarti aku ingin menunjukkan bahwa aku hidup tanpa jiwa & perasaan. Aku juga bisa merasa khawatir, lemah, takut, dan patah. Hanya saja, caraku dalam memproses masalah mungkin memang cenderung berbeda. Lalu,jika ditelaah lebih jauh, sikapku terhadap kehilangan kemarin mungkin juga dipengaruhi oleh kebiasaanku kehilangan handphone selama ini.

Ah, barang digital itu… aku sudah berkali-kali merasakan kehilangannya.

Pertama, handphone bermerek Nokia hadiah dari mamah karena aku telah lulus dari bangku SMP. Ia hilang di sebuah toko ATK (Agung) di Makassar saat aku masih menjadi mahasiswi baru. Kedua, handphone baru yang umurnya belum genap dua bulan, raib saat aku tengah asyik berbelanja di sebuah toko oleh-oleh di Bali. Ketiga, handphone peninggalan almarhum adikku, hilang dicuri orang saat aku menginap di kosan teman. Keempat, handphoneku dicuri lagi saat aku tertidur ketika menjaga nenek di rumah sakit. Kelima, handphoneku hilang saat aku sengaja meninggalkannya di kamar kos. Hari itu aku tengah mengikuti ujian tesis di kampus, namun pada saat yang sama kamarku ternyata dibobol maling. Ah, betapa sialnya aku saat itu. Terlebih ketika teringat bahwa pada hari ujian, laptop yang kugunakan malah mengalami gangguan sehingga aku harus meminjam milik seorang kawan. Padahal hari itu bertepatan dengan hari ulang tahunku. Hari di mana seharusnya aku bersyukur atas segala hal yang disediakan semesta. Namun khusus waktu itu, hadiahnya adalah latihan untuk menghadapi masalah hidup yang kadang datang dengan tak terduga.

Usai berfoto dan menerima bingkisan ucapan selamat dari beberapa teman, aku langsung pulang untuk memeriksa kamar yang rusak dan berantakan akibat pembobolan tersebut. Aku memiliki dua handphone, dan kabar tidak menyenangkan itu pertama kali kuketahui dari seorang tetangga kamar melalui pesan WhatsApp. Awalnya, kupikir itu hanyalah keisengan sebagai kejutan ulang tahun. Ternyata tidak, kamarku benar-benar dibobol maling.

Sesampainya di sana, aku meletakkan bingkisan yang kubawa. Satu per satu, Aku memperhatikan setiap benda yang sudah tidak berada di posisi semula. Dan benar saja, handphone yang kuletakkan di atas printer Epson telah raib, dibawa manusia yang entah siapa.

Aku hanya berucap, “Kenapa printernya tidak dibawa sekalian?” kataku sambil tersenyum dan memunguti pakaian yang berserakan.

Melihat reaksiku, ibu kos malah tampak heran. Beliau bertanya-tanya mengapa aku bereaksi seminim itu. Tanpa teriak, tanpa menangis, dan tanpa menyumpahi orang yang telah merusak hari yang seharusnya kupenuhi dengan kebahagiaan. Ya, reaksinya mirip dengan keheranan temanku kemarin saat melihat aku tetap santai ketika kehilangan. Memangnya reaksi seperti apa yang seharusnya kutunjukkan? Menggerutu tidak akan membuat barang itu kembali. Yang ada, aku hanya membuang energi untuk sesuatu yang sia-sia.

Kuakui bahwa sudah sejak lama ini menjadi salah satu hal yang juga membuatku bertanya-tanya. Dalam banyak keadaan, aku memang merasa santai dan mudah melupakan. Namun di sisi lain, aku juga sulit berhenti memikirkan banyak hal. Aku cenderung overthinking pada hal-hal tertentu. Hal yang seringkali justru bukan menjadi masalah bagi orang lain. Mungkin karena manusia memang tidak sesederhana kelihatannya. Setiap orang memiliki sisi kepribadian yang berbeda. Dan tentang pertanyaan, “Mengapa aku terlihat begitu tenang saat ditimpa masalah?” Hmm...Barangkali karena pembawaanku memang sudah demikian. Ditambah lagi dengan kebiasaan bertemu berbagai bentuk masalah, hingga kehilangan tidak lagi nampak menjadi masalah. Wkwkw… haha.

Comments

Popular posts from this blog

Maaf, Aku Belum Menikah. Tapi Aku Damai.

Ada yang menarik perhatian dari ritualku menyapa pagi setiap harinya. Seringkali aku membutuhkan waktu beberapa menit hanya untuk bangkit dari tempat tidur. Aku bukanlah pemalas, hanya saja... aku suka menyesapi permulaan hari dengan melibatkan rasa. Aku menilik dengan dalam bagaimana sepasang netraku menangkap cahaya kembali. Aku meresapi bagaimana Tuhan telah mengembalikan ruhku saat pertama kali melihat langit-langit kamar tersenyum. Ketika yang hening belum berubah bising, aku memaknainya dengan perlahan. Tubuhku lalu bangkit setelahnya, lalu menyentuh dingin lantai dengan perlahan. Walaupun tak bergegas, kehidupanku pun tetap bermula kembali. Aku memang terkesan lelet karena sangat jarang merasa terburu-buru. Aku tidak bersicepat seperti yang orang-orang lakukan di luar sana. Mereka berpacu dan memburu waktu, seolah dunia tidak memberi kesempatan untuk membuat jeda. Sementara aku?... aku masih sibuk berdamai dengan mimpi-mimpi yang masih berserakan dalam kepala. Mimpi yang masih...

Menjadi tanpa tergesa

Selain sangat suka sendirian dan hidup dalam lengang, aku pun sebenarnya tak membenci membaur dan bertemu dengan banyak orang. Aku betah dalam keadaan ruang yang sepi karena seringkali ia justru tidak membuat kesepian. Namun disisi lain, aku juga sangat suka hingar karena di sana aku bisa membaca banyak hal. Iya, aku seringkali memuja sesuatu yang sepi sebagaimana aku mengagumi keramaian. Aku merasa utuh serta cukup dalam sepi, dan merasa hidup di tengah riuh. Terkesan agak kontradiktif, tapi pada kenyataannya memanglah seperti itu. Saat ini adalah hari ke -8 bulan ke tujuh. Bekas tamu bulanan masih berwarna. Seperti biasa, hari-hariku terasa kacau saat aku terpaksa lalai menunaikan sholat lima waktu. Ada ritme ketenangan yang hilang. Hidup jadi seolah tak punya arah. Karenanya, jadwal mandi berubah, pun dengan jadwal kegiatan yang lain. Kemalasan bertambah berlipat-lipat. Jerawat berseliweran, hingga mabok gawai yang tidak berujung. Aku sadar bahwa yang kulakukan kebanyakan tak ...

Bukan Sekadar Rumah Baca, Tapi Tempat Kata-Kata Bermukim

Sedikit bercerita tentang masa kanak-kanak saya dulu yang gemar membuka majalah Andaka dan Bobo. Dua bacaan anak jaman bahuela yang sempat jadi teman bermain. Bapak saya adalah seorang guru SD yang setiap bulannya membawa majalah-majalah tersebut ke rumah. Majalah yang full dengan gambar berwarna. Puisi dan fabel pun ada di dalamnya. Sebagai anak-anak, tentu saya jadi suka dengan bacaan yang seperti itu. Akhirnya, saya punya kebiasaan suka membaca, hingga kadang berkhayal jadi kelinci atau gajah seperti yang ada dalam cerita. Selain majalah Andaka dan Bobo, jaman kecil saya pun punya kebiasaan membaca peta sambil tengkurap di atas lantai. Hampir setiap sore saat tidak diijinkan keluar rumah, saya akan menghabiskan waktu untuk membuka buku bersampul hijau bertuliskan kata "ATLAS". Buku yang menjadi buku kesayangan. Terbungkus plastik, dan masih ada hingga kini. Membukanya hanya untuk meraba-raba bentuk negara Amerika, Prancis, Jerman, dan lain sebagainya. Menghafal...