Katanya, dalam hidup hanya ada dua hari yang tidak berjumlah 24 jam: hari kita dilahirkan, dan hari kita meninggal.
Merangkai ketikan lagi.
Wangi relaksasi dari parfum ruangan beraroma Jasmine yang tadi kusemprotkan masih bisa kuendus hingga kini. Aromanya bercampur dengan wangi parfum yang kupakai sebelum merayakan maghrib beberapa saat yang lalu. Ia masih bergelayut pada mukenah yang kukenakan. Wangi yang membuat betah. Mengetik sembari menunggu perayaan waktu yang berikutnya pun terasa lebih nyaman. Sebagai orang yang gemar menghabiskan waktu sendirian dalam kamar, aku memang punya kebiasaan meromantisasi keadaan. Mengganti seprai, membersihkan lantai, menyalakan lampu kecil, memutar lagu melow dengan volume rendah, lalu menyemprotkan parfum di beberapa titik dan sudut. Sederhana, namun selalu berhasil menghalau rasa sendiri tanpa harus jatuh menjadi kesepian. Dan senang rasanya karena seringkali mendapati diri yang mudah bahagia hanya dari hal-hal kecil yang kulakukan. Dan tentang mengapa aku mengetik lagi, ini karena aku sadar bahwa ada yang berbeda dengan Minggu malam kali ini. Dari yang sorenya ramai dan berisik, kini suasana berubah diam dan sangat tenang. Sangat diam bahkan. Waktu jadi seolah berhenti berputar, terlebih saat suara mesin kulkas juga ikut berhenti. Hanya ada satu suara yang tersisa, yaitu detak jam weker biru muda yang kuletakkan di atas kulkas.
tik… tak… tik… tak…tik
Detak detiknya terdengar lebih nyaring dari sebelumnya, dan entah mengapa tiba-tiba saja aku berpikir bahwa bunyinya itu mirip dengan bunyi detak jantungku sendiri. Iseng, aku mencoba mendekapkan tangan ke dada untuk memastikan ritmenya. Hampir sama memang. Nah dari kelakuan konyol inilah kepalaku mulai ribut tak terkendali. Pertanyaan demi pertanyaan akhirnya bermunculan. Jika suatu hari nanti detak yang kupunya berhenti seperti weker yang baterainya sudah kehabisan energi, maka bagaimana aku akan dikenang? Kapan, dimana, dan seperti apa rasanya mengalami pengalaman yang tidak akan pernah bisa kuceritakan lagi dalam buku harian dan blog seperti ini?
Pada dasarnya pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya sudah acapkali muncul. Ini bukanlah hal baru dalam kepalaku, terlebih saat menjenguk jenazah atau sekedar melewati perkampungan makam. Namun, ini pertama kalinya aku mengetik tentang ini. Sebab terinspirasi dari detak weker, dan mungkin sebab didorong oleh berita duka yang datang silih berganti. Salah satunya dari seorang teman yang ayahnya telah berpulang beberapa hari yang lalu. Kabar duka yang tentu mengejutakan banyak orang, tak terkecuali aku. Ini karena berpulangnya terkesan mendadak, dan beliau adalah sosok yang cukup sering kutemui di algoritma semesta yang kupunya. Entah di jalan, pasar, masjid, kantor polisi, hingga di tempat-tempat tak terduga yang lain. Terakhir kali, saat aku pulang kemarin, aku juga sempat berpapasan dengannya. Beliau mengenakan pakaian dinas sekolah berwarna putih, dan terlihat masih cukup sehat mengendarai sepeda motor seperti biasa. Dan siapa sangka, ternyata siang hari itu adalah pertemuan terakhir yang menutup kemungkinan pertemuan lagi di lain waktu. Maka tepat di hari beliau dinyatakan wafat setelah mengalami sakit yang mendadak, kukirim rapal kecil, diam-diam dari kajauhan. Semoga sampai, lalu berubah cahaya yang bisa menemaninya. Aaamin.
Dan malam ini aku belajar lagi. Belajar merenungi kematian yang bisa datang kapan saja dan menyeruduk tanpa kenal ampun. Tanpa aba-aba, dan tanpa memberi waktu untuk bersiap. Yang darinya Tuhan telah terang-terangan memberitahu bahwa kehidupan memang bukan bulatan bola yang tiada pangkal dan ujung. Dunia dan semua keadaan yang ada dibaliknya akan selesai jika sudah waktunya. Selama apapun, semuanya tetap akan berakhir. Sedih, senang, susah, dan bahagia, hanyalah ritme hidup yang langkahnya akan lenyap dilumat waktu. Tak ada yang akan benar-benar hadir dan menetap. Kelak, kematian pun akan menjadi milikku. Kematian yang akan membuat luka bagi mereka yang punya kedekatan emosi denganku. Mereka mungkin akan sedih dan merasa kehilangan, setidaknya hanya untuk sementara. Perasaan sedih yang tidak akan lama, sebab pada kehidupan yang terus berjalan, memori-memori baru akan terus tumbuh dan menimpa memori yang lama. Ini karena mekanisme otak manusia memang dirancang mudah untuk melupakan. Perlahan namun pasti, aku benar-benar akan dilupakan siapapun.
Malam ini, sesaat sebelum aku mengakhiri ketikan ini, aku menoleh sebentar ke arah weker biru muda itu. Ia menunjukkan bahwa waktu maghrib telah jauh berlalu.Tik-tak-tik-tak. Detaknya masih setia seolah tak peduli tentang kegaduhan yang telah ia undang di kepalaku. Ia masih terus berdetak tanpa pernah tahu kapan jarumnya menyuruh ia berhenti. Aku lalu menghela nafas sejenak, menyadari bahwa selama detak itu masih terdengar, maka detak yang kupunya pun masih ada. Setidaknya untuk saat ini, setidaknya saat aku kembali iseng menulis apa yang sempat singgah dan gaduh...
Menyelipkan cuplikan video Noah karena sejak pertama kali dirilis beberapa tahun yang lalu, aku sudah terkesima dengan liriknya.

Comments
Post a Comment