Hari ini, mendung masih membaluri langit dengan warna abu-abu. Suasananya cukup sepi, dan bisa dipastikan bahwa air masih menggenang cukup dalam di jalanan. Tidak ada suara siapapun. Yang ada hanya suara kokokan ayam tetangga, klakson keandaraan yang terdengar dari jauh, keluhan tit-tit token listrik, dan suara mesin kulkas yang 24 jam menjadi soundtrack kehidupan ruangan bernuansa krem dan merah muda yang aku huni. Padahal saat cuaca sedang cerah, riuhnya terasa bahkan di pukul 6 pagi.
Sebelum mengetik ini, seharusnya aku journaling lebih dulu. Sebuah rutinitas pagi untuk mengingat setiap kebaikan yang telah semesta hadiahkan sejauh ini, pun untuk memetakan apa yang harus aku lakukan untuk bisa menjalani hari dengan baik. Padahal ada banyak hal yang butuh aku kerjakan, sementara kegiatan menulis potongan hidup seperti ini bisa aku lakukan belakangan. Ada pakaian yang belum dibilas di kamar mandi, ikan goreng kecap yang minta dipanasi dalam kulkas, mahasiswa/i yang butuh dipandu dari siang hingga sore, juga ada mereka yang meminta ditemani belajar saat malam. Dan yang paling penting dari ini semua adalah otot badan yang seharusnya direngangkan beberapa menit tiap pagi. Tapi yah.... tidak apa, toh me-manage waktu memang tidak selalu harus berhasil kan?
Lalu...sambil mengingat satu per satu kegiatan yang harus aku tunaikan hari ini, aku jadi semakin ingin mengabadikan satu hal sederhana. Tentang bagaimana semua itu bermula, yaitu aku yang juga bekerja sebagai seorang private tutor. Dulu, aku memang punya keinginan untuk menjadi seorang guru les private. Namun karena aku belum bisa mengendarai motor kala itu, keinginan itu akhirnya aku abaikan. Dan sekarang sesuatu yang pernah aku ingini itu dikabulkan Tuhan melalui waktu. Kini, aku adalah seorang pengajar kampus yang merangkap jadi guru les private yang datang dari pintu ke pintu. Kegiatan rutin yang bermula dari permintaan kecil seorang dokter THT. Sosok pribadi ramah yang pernah tumbuh dan besar di Polewali Mandar. Beliau ingin seorang guru private untuk anaknya yang berumur 4 tahun. Tawaran itu tentu aku iyakan, mengingat bahwa aku perlu dukungan finansial, juga karena selama ini aku belum pernah punya pengalaman menemani proses belajar seorang anak yang umurnya masih 4 tahun. Usai maghrib aku mendatangi rumah 4 lantai yang cukup megah di komplek itu. Cat rumahnya berwarna putih dengan pintu yang memakai sistem digital fingerprint. Aku menaiki tangga dan akhirnya bertemu dengan anak perempuan yang menggemaskan. Badannya montok berisi dengan rambut panjang yang curly. Bola matanya indah dengan bulu mata yang lentik dan panjang. Di awal pertemuan anak itu memang nampak tertutup dan malu-malu,namun saat aku mulai dekat dengannya, ia berubah menjadi anak yang terbuka dan ceria. Aku menjadi teman bermainnya. Iya, disaat perempuan seusiaku bermain dengan anaknya, aku malah bermain dengan anak orang lain. Tapi pernah suatu waktu anak itu menolak belajar. Pertama kali datang, aku melihat gurat sendu di wajahnya. Dia duduk di atas pangkuanku dan memelukku erat sambil menangis. Ia mengadu bahwa di rumah yang megah dan besar itu, ia seringkali merasakan kesepian. Padahal mainannya sangat banyak hingga seolah tak mampu aku hitung. Ayah dan ibunya adalah seorang dokter di sebuah rumah sakit besar, sementara kakaknya adalah seorang mahasiswi kedokteran yang sedang menyelesaikan studi. Ketiganya jadi jarang di rumah karena sibuk. Jadilah anak itu bosan karena hanya ditemani oleh ART yang kaku dan jarang mengajaknya bermain. Sebuah pemandangan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, bahwa anak sekecil itu ternyata sudah mampu meluapakan kesedihan yang ia rasakan dengan sangat ekspresif. Aku jadi kasihan dan iba, terlebih saat keluar dari rumah megah itu, tiba-tiba ada dua anak kecil perempuan yang saling mengejar dengan tawa terbahak-terbahak. Mereka nampak seperti anak gelandangan yang berkeliaran dengan kaos oblong yang lusuh dan kotor. Dua kejadian yang begitu kontras aku dapati di malam yang sama. Pertama, terdapat seorang anak perempuan yang hidup dalam kecukupan materi namun tidak bahagia, lalu yang kedua ada anak lain yang mungkin hidup dalam kekurangan, namun justru terlihat sangat bahagia.
Setelah beberapa bulan, aku akhirnya berhenti untuk menemani anak itu belajar. Bukan karena aku berhenti sayang padanya, namun karena ada aktifitas lain yang butuh untuk menjadi prioritas. Aku mendaftarkan diri di sebuah lembaga belajar. Lalu setelah melakukan tes wawancara dan micro teaching, aku diperbolehkan untuk turut andil menjadi seorang pengajar di lembaga tersebut. Tidak lama, hanya satu bulan, hingga akhirnya aku berhenti dan memilih untuk kembali menjadi guru les privat. Ini karena jadwal mengajar di lembaga tersebut bertubrukan dengan jadwal aktifitasku di kampus. Dan sinilah awal aku benar-benar menikmati peranku sebagai seorang guru les. Rating yang diberikan siswa untukku kebetulan selalu baik, hingga akhirnya aku tidak pernah putus bertemu dengan mereka yang beraneka ragam. Dan kebanyakan mereka adalah anak-anak dari sekolah swasta.Itulah sebabnya aku jadi tahu betul bahwa sistem pengajaran sekolah swasta memang sangat jauh berada di atas sekolah negri. Lalu pada kesempatanku mengetik lagi pagi ini, sebenarnya ada banyak pengalaman yang ingin aku tuliskan dan butuh diabadikan, namun dikejar waktu membuatnya jadi tidak mungkin. Salah satunya adalah pertemuanku dengan seorang gadis Cina, siswi dari salah satu sekolah swasta paling bergengsi di kota tempat aku jadi seorang perantau. Ia cantik, putih, tinggi, mulus, dan suaranya lembut. Sangat mirip seorang bintang FTV yang aku lupa namanya. Rumahnya berlantai 3 dengan jumlah asisten rumah tangga yang entah berapa. Pertama kali bertemu, ia langsung menyuguhiku dengan tugas sekolah yang setelah dilihat, itu adalah mata kuliah yang aku pelajari di sekolah pasca. Lumayan kaget karena ternyata pelajaran yang ia dapatkan di sekolah sudah setinggi itu. Selain tugas sekolahnya yang lumayan menguras pikiran, ada anjing tempramental bernama Kenzo yang tidak bisa aku lupakan hingga kini. Anjing besar berbulu putih yang menyalak galak setiap kali aku tiba di rumah itu. Anjing itu memang punya pagar pembatas, tapi tingginya hanya kisaran semeter, sedangkan anjing itu lebih besar dan tinggi dari pagarnya. Entah kenapa hanya aku yang selalu diperlakukan seperti itu. Ia menggonggong tak terkira seolah benar-benar benci padaku. Padahal kami sudah sering bertemu. Seisi rumah itu juga heran, karena katanya, anjing itu biasanya tidak seperti itu pada yang lain. Pernah aku berlari menaiki tangga dengan keadaan setengah menangis. Baru membuka pintu ruangan, kedua kakinya sudah menempel di pagar, seolah siap melompat dan menerkam tubuh mungilku ini. Gonggongannya besar tanpa putus. Aku kemudian berlari ke arah tangga menuju lantai 3 sambil teriak. Dan karena kejadian ini, ruang belajar kami dipindahkan ke ruangan yang justru jauh lebih nyaman dan privasi. Ruangan sepi dengan aqurium yang banyak, sofa yang empuk, dan fasilitas televisi sebesar dinding. Akhirnya, selain jadi ruang belajar, ruang itu menjelma jadi ruang karaoke saat bosan belajar. Ah ! Hampir lupa. Selain tugas berstandar kurikulum Internasional dan seekor anjing tempramen bernama Kenzo, ada lagi yang ternyata masih mampu aku ingat tentang gadis Cina itu. Pernah suatu hari aku mengirimkan pesan meminta ijin untuk merayakan lebaran. Ibunya malah menelfon dan menyuruh aku ke rumahnya sebelum pulang ke kampung halaman. Sesampai di sana, ARTnya yang ramah memberiku sebuah bingkisan berwarna merah. Untuk merayakan lebaran katanya, dari maminya "A". Ah...terimakasih banyak Bu"jawabku sembari membalas senyumannya.Nah dari sinilah kemudian aku berasumsi bahwa tidak semua Cina itu pelit dan enggan berbagi.
Pengalaman bersama dengan anak gadis itu bukan hanya memberi pengalaman baru padaku tentang dunia sekolah swasta, tetapi juga tentang cara melihat orang lain yang latarnya sangat berbeda dengan orang yang pernah kutemui sebelumnya. Dan rupanya, ia bukan satu-satunya siswi Cina yang meninggalkan kesan bagiku. Setelah itu, aku kembali dipertemukan dengan seorang siswi Cina lainnya dengan cerita yang tak kalah unik. Gadis itu tinggal di sebuah rumah besar minimalis yang baru dihuninya sekitar beberapa bulan. Berlantai 3 juga, dengan lampu berwarna biru yang berpendar sangat cantik di balkonnya. Gadis yang cukup kritis, yang akhirnya menjelma jadi teman baikku. Entah kenapa aku sangat merasa cocok berbicara dengannya. Dia adalah seorang Katolik yang hobi bertanya tentang Islam, sedangkan aku adalah seorang muslimah yang pernah suka membaca Bible dan hobi menonton video perdebatan agama Syekh Achmad Deedat. Ia bertanya, lalu kemudian aku antusias menjawabnya sesuai dengan kapasitas pengetahuan yang aku miliki. Ia juga suka bercerita banyak hal. Dari tempat-tempat wisata yang ia kunjungi saat ke Korea Selatan, hobi, makanan favorit, hingga mantan pacar dan juga seseorang yang ia sukai diam-diam di sekolah. Ia juga bilang bahwa meminum bir di keluarganya adalah hal yang sudah biasa terjadi. Sama sepertiku, ia adalah seorang introvert yang sangat suka deep talk ketimbang melakukan perbincangan basa basi. Saat aku hendak pulang, maka ia akan mengantar aku ke depan, dan akan masuk kembali setelah memastikan aku benar-benar pergi. Dari banyak hal yang yang aku lihat, ia ceritakan, dan cara ia memperlakukanku, aku semakin sadar bahwa ia datang dari keluarga yang sangat berada. Rumah besar, fasilitas lengkap, dan kehidupan yang terlihat serba cukup. Ada 5 kendaraan yang terparkir di teras rumahnya. Dan hanya 3 merk mobil yang masih kuingat. Mobil BMW berwarna putih, juga Pajero dan Inova yang berwarna hitam. Dari semua itu, ada hal yang membuatku sangat tertegun dan terkesima. Ia masih menggunakan handphone android yang kurang lebih sama dengan yang aku miliki. Ia mengaku tidak memiliki hp yang lain lagi. Pernah suatu hari aku iseng bertanya padanya tentang alasan ia menggunakan handphone yang terlihat tertinggal. Lalu dengan jawaban mantap ia menjawab. Ini juga masih berfungsi dengan baik, jadi kenapa harus beli lagi?. Kita kan harus membeli sesuatu sesuai kebutuhan. Suatu hari saat sudah butuh, baru beli lagi. Jawabannya singkat, namun membuat pikiran saya sejenak beku terpapar mindset yang ia punya. Untuk anak perempuan kelas 3 SMA, anak tunggal, dan kaya, punya pola pikir yang seperti itu menurutku adalah sesuatu yang cukup sulit ditemui. Di jaman sekarang, entah berapa banyak orang yang mengejar gengsi hingga rela berhutang demi gawai baru, tetapi ternyata ia tidak tertarik pada hal semacam itu.
Pada akhirnya, menjadi guru les bukan hanya tentang mengajar, tapi juga belajar. Aku mengetuk pintu untuk melihat dan mempelajari dunia di baliknya. Aku telah melihat bagaimana keterbatasan, kesepian, kegembiraan, dan kemewahan telah menjadi warna tersendiri dalam perjalanan hidup manusia yang berbeda-beda. Ternyata waktu menawariku beragam pengalaman yang telah dan akan jadi pembelajaran di setiapnya. Lalu, dari setiap pertemuan itu, aku pun sadar bahwa kebahagiaan kita sebagai manusia tidak selalu ditentukan oleh apa yang kita punya, melainkan oleh bagaimana kita merasakan dan memaknai hidup sebagaimana seharusnya. Iya, karena hidup ini bukan cuma tentang hitam dan putih. Mungkin inipun yang menjadi alasan mengapa aku masih betah menjalani hari-hari sederhana sebagai seorang guru les, selain dari alasan bahwa ternyata menjadi seorang guru les akan membuat kita menerima banyak hadiah dan pemberian. Bukan soal nilainya, tapi perasaan hangat yang menyertai setiap pemberian-pemberian itu....

Comments
Post a Comment